Jakarta: Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Alex Noerdin dan Nono Sampono, berjanji menerapkan program kesehatan dan pendidikan gratis jika nantinya terpilih. Bahkan, janji merealisasikan kedua program itu sehari usai pelantikan menjadi Gubernur DKI Jakarta.
"Setelah pelantikan H+1, insya Allah semua dapat terwujud," kata Alex di sela-sela Dzikir Akbar bersama Ustaz Arifin Ilham di Masjid Qaddafy Islam Center, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Ahad (1/4).
Alex yang notabene masih menjabat Gubernur Sumatra Selatan mengaku pernah mendapatkan penghargaan Rekor MURI kategori realisasi janji kampanye pilkada tercepat dalam kurun waktu 81 hari. Yakni untuk program pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat Sumsel.
Karena itu Alex menegaskan program bebas biaya yang diusungnya hanya diperuntukkan untuk golongan rakyat miskin DKI Jakarta yang terdaftar atau memiliki KTP DKI Jakarta. "Sekitar 61 persen warga DKI Jakarta yang belum tercover, atau sekitar 5,8 juta jiwa membutuhkan program bebas biaya kesehatan dan pendidikan," jelas Alex.
Pada kompetisi ini Alex mengklaim dengan program itu, pernah mendapatkan penghargaan sebagai The Best Regional Leader Of The Year 2011 dari Markplus. Inc. Sebuah penghargaan pertama yang diterima Kepala Daerah di Indonesia.
Alex juga mengaku kedekatannya dengan kalangan ulama bukan hanya di saat masa pilkada, melainkan sejak lama terjalin. "Saya selalu memberikan perhatian kepada para ulama dan lembaga keagamaan sejak dari Sumsel. Seperti baru-baru ini memberikan bantuan ratusan sepeda motor kepada pondok pesantren di Sumsel," pungkas Alex.(AIS)
Minggu, 01 April 2012
Alex Noerdin–Nono Sampono janjikan Kesehatan dan Pendidikan Gratis
Baju Kotak-Kotak Ala Jokowi Siap Diproduksi Massal
Solo : Demi memuluskan amibisinya untuk menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta, calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi yang juga merupakan Walikota Solo, terus melakukan upaya penggalangan dana, salah satunya dengan memproduksi baju yang kemudian dijual ke masyarakat umum.
Baju kotak-kotak dengan kombinasi warna merah, putih dan biru yang dikenakan Jokowi dan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok saat mendaftar ke KPUD DKI Jakarta pada 19 Maret lalu, rencananya akan diproduksi sebanyak 70.000 potong dengan berbagai ukuran. Baju-baju tersebut akan diproduksi di Solo dan Jakarta dengan melibatkan pihak UKM dan penjahit.
Saat ditemui di Balaikota Solo, Minggu (1/4), Jokowi mengatakan, saat ini sedang diproduksi 6.000 potong baju dan dua minggu ke depan siap untuk dijual. Dijelaskannya, ide untuk memproduksi massal baju yang dia beli di Tanah Abang ini karena masyarakat menyukai baju yang ia kenakan. Baju seperti Jokowi dapat ditemui di Pasar Tanah Abang, Mangga Dua dan Taman Ismail Marzuki (TIM).
"Mungkin dua minggu lagi sebanyak 6.000 potong baju sudah jadi. Baju ini banyak kok dijual seperti di Tanah Abang, Mangga Dua dan TIM, tetapi modelnya masih umum,” kata Jokowi.
Jokowi, yang diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, awalnya membeli baju tersebut di Tanah Abang sebelum mendaftar ke KPUD DKI Jakarta dengan harga Rp 135.000 per potong atau Rp 400.000 per tiga potong. Rencananya baju ala Jokowi akan dijual dengan harga Rp 100.000 per potong, dan pihaknya akan meraup keuntungan Rp 35.000 per potong. Keuntungan dari penjualan baju tersebut akan digunakan untuk menyokong biaya kampanye
Selain itu, Jokowi juga akan membuatkan secara khusus baju untuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Puteri dan suaminya, Taufik Kiemas.
Ketika disinggung mengapa dirinya memilih baju kotak-kotak warna-warni, pria yang pernah berseteru dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo ini, menjelaskan, filosofi dari baju tersebut yakni warna-warni merah, putih dan biru adalah simbol keberagamanan warga Jakarta. Sementara kotak-kotak menandakan Jakarta sebagai Ibu Kota negara memiliki masalah yang kompleks. (Sgd/Ciptati/HF)
Hidayat Nurwahid Didik cari solusi masalah Jakarta
JAKARTA -- Pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta 2012 Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini, mengunjungi warga di Kelurahan Bendungan Hilir (Benhil), Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (25/3) pagi. Dalam kunjungan itu juga dihadiri oleh politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN). "Kami hadir kesini untuk memberikan bukti yang kesekian kalinya bahwa keberpihakan kami dan kecintaan kami kepada Jakarta jangan diragukan lagi," kata Hidayat, kepada wartawan, Minggu (25/3) di lokasi. "Bahkan di tempat yang kumuh, yang penuh lalat kayak begini pun kami berani datang. Tentu bukan sekali ini saja kami datang, karena bagi saya hadir ke tempat semacam ini, (tempat) korban banjir di Jakarta sudah lama, sejak ketua partai," katanya di pinggiran Kali Krukut anak Sungai Ciliwung, itu. Ia menambahkan, kehadiranya bersama Didik menjadi simbol keinginan untuk menjadi bagian dari solusi persoalan Jakarta yakni kemiskinan, kesejahteraan, kemacetan, kebanjiran. "Ini adalah komitmen serius. Bukan serius dalam tingkat omongan saja, atau omong doang, tidak. Kami lakukan sekarang ini mengulangi, menegaskan, bahwa apa yang kami lakukan merupakan beberapa kerja kami di Jakarta," kata bekas Presiden PKS itu. Dia mengatakan lagi, "Kita lihat langsung beberapa bagian kondisi masyarakat Jakarta masih begitu rupa. Mestinya hal semacam ini mesti selesai ketika kita punya gubernur yang ahlinya." Tapi, lanjut dia, ternyata masyarakat di Jakarta, berdasarkan hasil survei-survei permasalahan di Jakarta tetap berkutat pada tiga hal itu yakni banjir, macet dan kemiskinan. "Ini kami harus berikan jawaban yang kongkret, yang bukan berbasiskan pada sekedar program, tapi jati diri, kredibiltas selama ini kami lakukan dann keunggulan untuk menghadirkan terobosan," ujar bekas Ketua MPR, itu.
Tim sukses pasangan cagub-cawagub DKI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini mengklaim sudah ada 90 ribu relawan hingga hari ini. Mereka siap bergerilya, mengetok satu juta pintu untuk memenangkan pasangan Hidayat-Didik.
"Sampai hari ini kita sudah ada 80-90 ribu orang relawan, mereka akan datang ke seluruh pelosok masyarakat, mengetuk semua pintu rumah, dan memohon doa restu. Kita punya program 'Ketok satu juta pintu', jadi kita berharap satu juta rumah sudah kita sapa untuk meminta dukungan pasangan ini," jelas Ketua Tim Sukses Hidayat-Didik, Triwisaksana.
Hal itu disampaikan Bang Sani, sapaan akrab Triwisaksana, usai acara 'Hidayat-Didik Mendengar' di pinggir Kali Krukut, Jalan Administrasi Negara I, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (25/3/2012).
Sani menambahkan, pihaknya sedang berkonsolidasi, memberikan pembekalan dan lain sebagainya. "Insya Allah dalam waktu yang tidak akan lama lagi dari kader-kader PKS, PAN dan relawan yang resmi daftar kepada kita," jelas Sani.
Sebagai Ketua Tim Sukses Hidayat-Didik, Sani pun menjelaskan ada 3 alasan mengapa Hidayat-Didik layak dipilih. Pertama, pasangan Hidayat-Didik mendapat banyak sekali dukungan dari berbagai kalangan, suku dan berbagai lapisan sosial masyarakat.
"Bahkan masyarakat Betawi sekalipun mendukung kita, jadi semua kalangan masyarakat seluruh suku bangsa dari lapisan sosial masyarakat mendukung calon kita. Insya Allah kita
yakin menang karena dukungan yang meluas," jelasnya optimis.
Kedua, punya jejak rekam kepemimpian dan karakter paling ideal dibandingkan calon lainnya seperti jujur, transparan dan dapat dipercaya serta kompeten. Serta punya banyak prestasi dalam membereskan masalah-masalah di Jakarta.
"Contoh dari Bang Hidayat, sudah melakukan pemerintahan yang bersih, baik dan amanah ketika dia sebagai ketua MPR, presiden PKS, dan sebagai anggota DPR. Lalu Bang Didik, banyak menelurkan kebijakan ekonomi yang mendukung. Yang dibutuhkan Jakarta karakter dan kompetensi," promosinya.
Ketiga, didukung tim yang solid dari berbagai partai yang siap bergerak 24 jam. "Dalam hal ini kita akan bergerak 24 jam untuk memenangkan Pilkada ini. Sudah ada 80-90 ribu relawan yang akan mendukung dan siap mengetok pintu ke rumah-rumah memohon doa restu untuk calon gubernur Didik dan Hidayat," papar Sani yang menyatakan ikhlas tidak jadi maju sebagai cagub PKS.
"Program-program akan saya beri masukan kepada Pak Hidayat sebagai bahan mereka menyusun visi-misi, salah satunya program pembangunan manusia, penguatan pada sektor pendidikan, kesehatan dan lain sebagainnya," jelas Sani.
Kamis, 29 Maret 2012
Ridwan dan Sutiyoso anggap Fauzi Bowo Gagal
Jakarta - Budayawan Betawi Ridwan Saidi, melihat ada tiga kesalahan fatal yang dilakukan oleh Fauzi Bowo selama memimpin Jakarta. Hal tersebut disampaikan dalam acara Jakarta Lawyers Club Rabu (28/03/2012).
Pertama, Fauzi Bowo bersama- jajarannya merampok hak cipta Ridwan Saidi dan sahabatnya yang sekarang tinggal di Roma. “Pemprov DKI Jakarta merampok 20 hak cipta designer saya bersama KRMP Daud yang sekarang berdomisili di Roma. Mereka merampok karya kami. 20 karya cipta itu didaftar sebagai milik Pemda DKI. Mereka tidak bertanggung jawab, dan kami tidak pernah dibayar satu peser pun. Itu kelakuan jajarannya Fauzi Bowo,”tegasnya.
Kedua, Taman Ismail Marzuki yang seharusnya menjadi tempat pentas seni dan budaya, malah disulap menjadi tempat jual-jualan. TIM disulap menjadi pasar. Tidak ada sama sekali perhatian dari Pemrpov DKI Jakarta.
Tiga, Pemprov DKI Jakarta tidak pernah mengunjungi saudara Haerudin yang memiliki 40 hektar hutan lindung milik pribadinya. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga tidak pernah memberikan perhatian.
“Dan bahkan nengok sekali pun tidak pernah. Malah Khaerudin pernah mendapat hadiah dari Unesco, tetapi giliran Unesco mau datang ke lokasi malah dilarang oleh Pemprov DKI Jakarta,”tegasnya.
Karena itu menurut Ridwan, bukan zamannya lagi berbicara soal Betawi, Jakarta dan luar Jakarta dalam kancah pemilukada kali ini, karena orang Betawinya sendiri tidak mampu membawa perubahan di DKI Jakarta.
“Jadi kita jangan sampai terjebak pada opini orang Betawi, karena apalah gunanya berbicara soal itu, kalau orang Betawi sendiri tidak ada yang mampu, kenapa harus dikasih ke orang Betawi,”tegasnya.
Senada dengan pendapat Ridwan Saidi, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga menilai Fauzi Bowo alias Foke telah gagal membawa perubahan di Jakarta. Sutiyoso menilai bahwa Fauzi Bowo gagal melanjutkan program yang sudah dicanangkannya pada masa jabatannya. Ambil contoh monorel yang tiba-tiba diberhentikan pembangunannya.
Demikian juga jalur bus way yang seharusnya sudah bisa terkonek dengan daerah lain, malah tidak terjadi. Dan bahkan pada masa pemerintahan Fauzi Bowo hanya ada 5 ruas jalur bus way. (v/kp)
Sabtu, 24 Maret 2012
Kader PAN banyak kecewa ama Fauzi Bowo alias Foke
Jakarta Cawagub Didik J Rachbini tegas mengatakan bahwa dukungan PAN ke pasangan lain ibarat kereta kosong. Hal ini juga dibenarkan oleh PAN yang menyebut bahwa partainya tidak bisa menghalangi dukungan kadernya yang luar biasa kepada Didik. Bagaimana melihat fenomena ini?
"Dukungan dan pernyataan sejumlah fungsionaris PAN terhadap pencalonan Hidayat-Didik J Rachbini dapat dibaca sebagai bentuk kekecewaan PAN pada Demokrat. Saya melihat, meskipun secara institusional mendukung Foke, tapi secara kultural mendukung Hidayat-Didik," kata analis politik Charta Politika, Arya Fernandes, kepada detikcom, Sabtu (24/3/2012).
Menurut Arya, kekecewaan PAN bisa jadi disebabkan oleh proses pemilihan cawagub dari Fauzi Bowo. Bisa jadi PAN secara institusi tidak diajak Demokrat untuk ikut memberi masukan terhadap proses pemilihan cawagub dari Fauzi Bowo. Terlebih, pemilih PAN lebih dekat ke Didik daripada Foke.
"PAN yang mempunyai basis di kalangan terdidik dan kelas menengah cenderung kecewa terhadap Foke. Saya melihat mereka akan memberikan dukungan ke Didik. Apalagi Didik dikenal sebagai tokoh penting di internal PAN," tutup Arya.
Partai Demokrat sendiri tidak terlalu mempermasalahkan jika banyak kader PAN lebih banyak mendukung Didik Rachbini dibandingkan mendukung Foke. PD mengklaim dukungan untuk Foke bukan hanya dari PAN saja melainkan dari masyarakat Jakarta.
"Tidak masalah kalau kader PAN mendukung Pak Didik, tidak masalah," ujar anggota Majelis Tinggi Max Sopacua kepada detikcom, Sabtu (24/3/2012)
(mpr/ahy)
Selasa, 20 Maret 2012
Simpatisan PAN belum tentu dukung Fauzi Bowo
JAKARTA - Partai Amanat Nasional (PAN) tidak mempermasalahkan jika Pilkada DKI Jakarta tahun ini pihaknya dianggap bermain dua kaki. Pasalnya, secara formal PAN mendukung Fauzi Bowo dari Demokrat sebagai calon gubernur DKI, sementara salah seorang kadernya, Ketua DPP PAN Didik J. Rachbini mendampingi calon gubernur Hidayat Nur Wahid dari PKS.
Terkait hal ini, Ketua DPP PAN Agus Sarwanto mengatakan, ada beberapa hal yang membuat kader dan simpatisan PAN belum tentu mendukung Fauzi alias Foke. Pertama, Foke memang tidak punya prestasi yang membanggakan untuk bisa dipilih kembali di Jakarta. Kedua, Foke juga dinilai jauh dengan warga PAN, sehingga sangat sulit bagi warga PAN memilih Foke pada pemungutan suara 11 Juli 2012 nanti.
Yang tidak kalah penting, lanjutnya, wakil Foke juga bukan kader PAN. Sementara di internal PAN banyak stok tokoh yang memumpuni untuk bisa meraup suara di Pemilukada. "Mungkin akan berbeda jika Foke menggaet kader PAN," ujar dia.
Dia menambahkan, Didik--tokoh internal PAN--yang ikut bertanding dalam memperebutkan kursi orang nomor satu di ibukota Jakarta ini semakin memperbesar kemungkinan warga PAN tidak memilih Foke. "Jelas, secara emosional kita pasti mendukung Pak Didik ketimbang memilih Foke yang merupakan orang lain," jelasnya.
Didik, lanjut Agus, bukan hanya sekedar pengurus DPP PAN di bidang penelitian dan pengembangan (Litbang), tetapi ekonom Indef ini juga merupakan salah satu pendiri PAN yang cukup dikenal dan disegani oleh warga PAN. "Sehingga kader dan simpatisan ada rasa memiliki untuk memilih Didik sebagai wakil gubernur."
Selain itu, Keterpilihan Didik mendampingi Hidayat juga merupakan satu kebanggaan tersendiri bagi kader dan simpatisan yang selama ini haus kepemimpinan. "Kader akan merasa bersalah kalau tidak memilih Didik. Perintah partai mengusung Foke tidak akan digubris."
Di internal partai sendiri, jelas Agus, ada anjuran dan perintah dari Ketua Umum Hatta Rajasa untuk memilih duet Hidayat-Didik. "Ada perintah harian ketum Hatta Rajasa harus mendukung Hidayat dan Didik untuk Pilkada DKI Jakarta," ujarnya.
(Hal / Nky/JN)
Ahok: Foke gak peduli ama masyarakat Jakarta
Jakarta - Basuki Tjahja Purnama alias Ahok menyindir Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) yang menggunakan modal asalnya sebagai suku Betawi. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menjadi pasangan calon Gubernur Joko Widodo (Jokowi) ini mengklaim tidak semua orang Betawi mendukung Foke.
"Jadi, bilang sama Pak Foke, Jakarta ini banyak golongan. Orang Betawi juga nggak semuanya dukung dia, saya kira pendukung saya malah banyak anak Betawi. Jadi, Betawi mana yang mau diklaim?" kata Ahok di DPR/MPR RI, Jakarta, Selasa (20/3).
Menurut Ahok, banyak orang Betawi yang menjadi tim suksesnya. Sebab kebanyakan masyarakat asli Jakarta menangis melihat kondisi Jakarta saat ini. "Kita setuju tidak perlu rumah kumuh, tapi orang miskin diberi rumah dong. Kalau begini orang Betawi juga nangis Jakarta dibangun mereka nggak diperhatiin," sindirnya.
Dengan percaya diri, Ahok menyatakan masyarakat DKI Jakarta, khususnya yang muda, suka dengan calon yang keren dan tak berkumis. Karena itu, calon gubernur tua sebaiknya pensiun saja karena pegawai negeri sipil sendiri pensiun di usia 58 tahun. "Sekarang tren-trennya model Korea Selatan, kaya saya sama Pak Jokowi," canda anggota Komisi II DPR itu. (and)